Langsung ke konten utama

Kita itu makhluk penggosip!


(Tugas workshop ODE LITERASI BAUBAU)

Saya memilih quotes milik bang Baladil Amin, tentang jangan menggosipkab orang lain jika kita tak ingin digosipkan. Kenapa?, menurut saya, setiap manusia dilengkapi dengan perangkat "software" untuk menggosip. Sederhananya, kita ini makhluk penggosip.

Betapapun kita menolak, namun kita akan selalu menjadi penggosip. Hanya saja ada kategori yang "aktif" dan "pasif". Bagaimana itu?. Ada yang sering menikmati gosip namun tidak ikut-ikutan bergosip, ini kategori penggosip pasif. Lalu, ada yang begitu menikmati gosip lalu ikut nimbrung dan bahkan menciptakan gosip baru, ini kategori penggosip aktif.

Namun, oleh karena "software" itu dalam diri kita, maka kita harus menerima hukum bahwa "software" itu juga ada pada diri orang lain. Kita boleh jadi mampu menggosipkan orang lain begitu juga orang lain. Toh kita memiliki kemampuan yang sama untuk menggosip.

So..? Kita mau memilih yang mana?
Perlakuan orang lain terhadap kita, adalah cerminan dari perlakuan kita terhadap orang lain.

Komentar

Tulisan Populer

JANGAN MENGUTUK SEPI DI TENGAH KERAMAIAN

Merasa sepi adalah bagian dari esensi kepemilikan rasa oleh manusia, namun terkadang perasaan sepi menjadi bagian penghalang terhadap sesuatu yang lebih produktif. Perasaan sepi setidaknya pernah dirasa oleh setiap manusia. Berbagai macam alasan bisa muncul dari adanya perasaan sepi ini, mulai dari sesuatu yang termiliki hingga sesuatu yang menyangkut posisi keberadaan makhluk. Namun perasaan sepi dimaksud disini adalah perasaan sepi yang lain, bukan karena kesendirian disuatu tempat, tapi lebih menyangkut sesuatu yang termiliki dalam rasa (baca: hati).

Nyanyian Bocah Tepi Pantai

Gambar disini Diantara bagian pulau yang menjorok kelaut, terselip sebuah kehidupan manusia sederhana. Bocah-bocah manusia yang menggambar masa depannya melalui langkah-langkah diatas pasir, mempelajari kehidupan dari nyanyian angin laut, dan menulisakan kisah melalui deburan ombak yang mengajari menggaris tepi daratan dengan buihnya. Hari-harinya dilakukan dilaut, berkomunikasi dengan laut sekitar. Setiap hal diberikan oleh laut, kecuali sesuatu yang selalu dinantikan mereka, sesuatu yang selalu dinanti anak manusia dalam hidup, dan menjadi kehidupan bagi generasinya mendatang, yakni sesuatu yang berwujud kesempatan. Kesempatan yang disebut kasih sayang Ina’ [1] mereka.