Langsung ke konten utama

HUJAN

Aku suka hujan, hujan memberi tak memilih, hujan memberitahu untuk sejenak berhenti, hujan memberi tahu untuk sejenak berpikir bahwa hidup tak jua menjemukkan, hujan memberi kesenangan dan keteduhan disela gersang.

Aku suka hujan, hujan mengatakan dunia indah, hujan mengatakan kebagahagiaan melalui pelangi setelahnya, hujan mengatakan benih untuk bertumbuh, hujan mengatakan inilah jejak para pemenang, hujan menghapus jejak kekalahan keputusasaan dan pesimisme karena hujan adalah lambang harapan-harapan dalam cinta.

Aku suka hujan, yang membuatku merindu, yang membuatku mengingat, yang membukakan hati bahwa dia ada. Aku suka hujan yang memberikanmu ketenangan untuk setiap masalahmu, aku suka hujan.


Aroma pohon, aroma daun, aroma tanah, masing begitu menyengat di hidungku. Berjalam di sisi pohon besar menuju kampus walaupun dengan kondisi masih gerimis. Kehidupan seorang mahasiswa selalunya semuanya dapat dicukupkan, apakah itu banyak ataupun sedikit pasti cukup. Ku tahu hari itu lepas hujan dan tak mungkin mengejar kuliah yang bisa jadi dosennya sudah masuk, namun kutetap berjalan kaki menuju kampus. Aku selalu suka dengan hujan.

Segerombolan orang disisiku mengutuk hujan karena mereka tidak dapat mencari rejeki, setelah kumenoleh kutahu mereka ojek. Memang bagi ojek hujan merupakan kendala paling besar yang mereka hadapi untuk bisa mengisi kantong rejeki mereka. Aku berpikir bahwa bukankah hujan adalah rejeki juga. Namun aku masih selalu suka dengan hujan.

Sekelompok perempuan berjilbab berjalan menyebrang disisi jalan, mengangkat sedikit roknya hingga sepatu dengan kos kakinya kelihatan walaupun ada beberapa yang memakai celana panjang. Terdengar teriakan-teriakan khas yang dilakukan perempuan yang spontan mencoba menghindari genangan air di jalan akibat hujan. Mengingatkanku padanya. Aku masih selalu suka dengan hujan.

Disisi lain kumasih menjumpai hal serupa, seakan-akan mereka tak pernah menerima kalau hujan mesti turun pada waktu itu. Kenapa tidak nanti saja, kita masih ada pekerjaan jadinya terbengkalai, kita punya cucian yang belum kering, kita masih membutuhkan panas matahari untuk usaha kita. Banyak hal yang kudengar ketika melewati jejeran kios di sisi jalan sebelum kumemasuki jalan kampus. Mengingatkanku padanya, ketika mengata pada hujan, entah dia suka dengan hujan atau tidak. Aku masih selalu suka dengan hujan.

Beberapa tetes hujan yang mengenai wajahku, dingin basah kurasa. Kupikir awan sedang menggodaku untuk ingatanku tentangnya. Tetap saja kuberjalan di antara titik hukan gerimis yang kadang mencoba menyenggolku. Masih kuat tergengar desir motor dan cipratan air yang terinjak oleh roda motor. Telapak roda mobil malah membuat melodi yang berbeda dari bekas hujan. Mengingatkanku padanya, yang suka memberiku irama kehidupan yang baru. Aku masih suka dengan hujan.

Setibanya sambil menengadahan tangan ke sudut atap gedung yang menjatuhkan beberapa tetes hujan sisa tadi. Membelai lembut telapak tangan, setetes demi setetes berusaha mengucap salam perjumpaan nanti. Seperti membayang segurat senyum yang diciptakannya untukku, kurasa! Ketika kumencoba menggodanya dengan candaanku. Aku masih selalu suka dengan hujan.

Sebelum kubuka pintu masuk ruangan kelas, kubalikkan badan menyapa hujan. Aku menyukaimu persis ketika kau tak memilih untuk siapa yang akan kau basahi ketika berada dibawahmu. Aku suka hujan, mengingatkanku padanya. Pada memori tentang dia yang telah kurekam dalam memori. Pesanku untuk hujan, jika kau bertemu dengannya disana beritahu bahwa aku masih menyukai hujan, sama seperti aku masih menyukaimu.

Baubau,25-12-1987
Njk!

Komentar

Tulisan Populer

Kenangan Kambing

Entahlah kemarin pada saat selesai membaca sebuah novel berjudul Sepatu Dahlan yang ditulis oleh Krishna Pabichara, saya kemudian terkesan dengan semangat yang dimiliki oleh Dahlan dan Teman-temannya. Ada sebuah mozaik yang tertangkap oleh zaman dan akan terus terkenang oleh masa atas sebuah pencapaian mimpi anak manusia dan disertai dengan kerja keras. Banyak hal, banyak nilai yang dicatut dalam novel tersebut salah satu kata yang paling saya senangi dalam novel ini adalah “orang miskin cukup menjalani hidup dengan apa adanya”. Novel yang diangkat dari biografi hidup Dahlan Iskan (Menteri BUMN saat ini), walaupun begitu tetaplah cerita yang ditulisnya adalah sebuah fiksi yang ditambahkan bumbu tulisan disana-sini agar menarik tapi tetap memiliki keinginan kuat untuk menggambarkan kehidupan Dahlan Iskan, yang saat ini menjadi salah satu tokoh yang banyak menjadi inspirasi. Namun ada satu aktivitas Dahlan dalam cerita ini yang langsung memberi sebuah kenangan flashback bagi saya, ...

Mahalnya Menjadi Pegawai Negeri

Menjadi pegawai negeri di kampung halaman saya memang seperti sebuah prestasi bagi seorang sarjana. Hal ini dapat kita lihat bagaimana antusias para sarjana di kota ini ketika sedang dibukannya pendaftaran calon pegawai negeri sipil, mulai dari sarjana yang masih baru hingga yang sudah cukup lama bergeliat dalam dunia pegawai negeri sebagai pegawai magang di salah satu instansi pemerintahan di daerah ini. Mungkin hal ini juga banyak terjadi di kota-kota lain di negeri ini, sebuah obsesi menjadi pegawai negeri. Mungkin fenomena ini terjadi karena di kota-kota kecil seperti kampung halaman saya ini dan beberapa daerah di indonesia masih cukup menguntungkan untuk menjadi seorang pegawai negeri, karena mungkin tidak ada sebuah instansi lain yang dapat menampung lonjakan lulusan institusi pendidikan mulai dari lulusan sma hingga sarjana. Disamping itu mengingat pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil sebagian besar cukup “nyaman” dengan tidak perlu menguras tenaga yang banyak untuk itu tapi ...

Seorang Nenek dengan Keranjang Jualannya

Minggu kemarin saya berniat ke jogjakarta mengunjungi saudara yang kebetulan berkeluarga dan bekerja di sana. awalnya memang saya tidak tahu menahu tentang keberadaan mereka disana. namun melalui jejaring facebook akhirnya saya ketemu deh. padahal sudah hampir lima bulan berada di solo (tetangga dekat jogja), danseringkali juga jalan ke jogja namun tidak tahu bahwa ada keluarga disana. sekali lagi saya mesti berterima kasih kepada jejaring sosial ini. namun dalam tulisan ini tidak untuk membahas itu, namun seorang nenek penjual makanan ringan di stasiun solo balapan. Ada sebuah pembelajaran berharga disini. tapi sebelumnya saya menganalogikannya dalam pertanyaan. ketika kita bertemu seorang ibu pengemis dengan menggendong anaknya di jalan, kemudian menyodorkan tangannya ke kita. apakah hati kecil kita tersentuh dengan itu? saya jujur menyatakan awalnya iya, saya kadang mengutuk pemerintah yang tidak "sempat" memperhatikan mereka.tapi hari itu, bertemu dengan seorang nen...