Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pengalaman

Harjuna: Melampaui Diri Sendiri

Seringkali hal-hal kecil mampu memberi dorongan besar dalam diri untuk berubah, namun tidak jarang pula karena hal-hal kecil membuat diri menjadi pesimistis untuk melakukan sesuatu. Kita kemudian membuat batasan-batasan diri sendiri, atas sesuatu yang sebenarnya belum tentu seperti apa yang kita bayangkan. Ketakutan/ kekhawatiran pada akhirnya lebih besar daripada masalah itu sendiri. Saya Menemu seseorang, Harjuna namanya penyandang Tuna Netra. Ia memiliki tekad untuk berkuliah di Universitas Muhammadiyah Buton di tengah keterbatasannya, ia memberi contoh orang-orang yang mengalahkan keterbatasannya, ia melampaui dirinya. Apa saja inspirasi yang bisa diserap dari nya?

Harjuna: Melampaui Diri Sendiri

Seringkali hal-hal kecil mampu memberi dorongan besar dalam diri untuk berubah, namun tidak jarang pula karena hal-hal kecil membuat diri menjadi pesimistis untuk melakukan sesuatu. Kita kemudian membuat batasan-batasan diri sendiri, atas sesuatu yang sebenarnya belum tentu seperti apa yang kita bayangkan. Ketakutan/ kekhawatiran pada akhirnya lebih besar daripada masalah itu sendiri. Saya Menemu seseorang, Harjuna namanya penyandang Tuna Runggu. Ia memiliki tekad untuk berkuliah di Universitas Muhammadiyah Buton di tengah keterbatasannya, ia memberi contoh orang-orang yang mengalahkan keterbatasannya, ia melampaui dirinya. Apa saja inspirasi yang bisa diserap dari nya?

Menilai, Memberi Nilai dan Klasifikasi Mahasiswa

Akhir semester begini, selain memberi ujian mahasiswa sebagai dosen, kita juga dituntut untuk menilai dan memberi nilai kepada mahasiswa. Mudah? tentu saja kedengarannya begitu. Namun tidak semua yang enak didengar juga akan enak dilakukan.Kenapa menilai dan memberi nilai begitu men"dilema"kan?

Ramadhan Yang Tak (Pernah) Dirindukan

"ahh...tinggal beberapa hari lagi puasa" "Sudah bikin kue?" "THR belum keluar ya?" "Sudah punya baju baru?"

Tiket Menulis

Ada kata bijak yang mengatakan bahwa buku (pengetahuan) adalah tiket untuk berpergian kemana saja dan bertemu siapa saja. Ini barangkali sekedar kiasan, namun mendalami maknanya kita dapat meneguk banyak  hikmah. Begitu pula dengan tiket, sebuah tiket seringkali digunakan untuk masuk atau mengikuti suatu event. Tiket serupa kunci untuk masuk.

Kangen Jogja

Sewindu di Jogja Pernahkah merasa dibawa ke ingatan masa lalu disuatu tempat? kita seolah merasakan anginnya, hangat suhunya, bau tanahnya, suasana bisingnya, atau hal-hal lain yang seolah-oleh kita berada di suatu tempat yang secara tidak langsung kita ingat itu dimana.

Ketika Sebuah Kembalian Kebaikan Berlaku

“ingatlah nak, hukum energi itu berlaku. Dimana energi tidak dapat dihancurkan namun hanya mampu berubah bentuk. Jika hari ini kamu berlelah-lelah mengeluarkan energi buat membantu orang lain, jangan kecewa jika hal itu belum membuahkan hasil secara langsung. Karena energi yang kamu keluarkan hari ini, akan dengan sendirinya bekerja untukmu di lain waktu dengan besaran yang sama atau bahkan bisa lebih besar dari itu, Tuhan tidak tidur, nak!.” Begitu, penggalan pesan dari seorang dosen saya tepatnya guru, namanya Bapak Sutanto. Beliau seorang yang menurut saya penuh dedikasi bagi sebuah inovasi dan perubahan. Sekalipun beliau tidak secara langsung mengajari saya dalam ruang kelas kuliah selama kuliah di Universitas Sebelas Maret, setidaknya beberapa kegiatan yang selalu saya ikuti bersama beliau memberikan ajaran yang cukup berarti bagi saya. Seseorang yang dahulu hanya melihat lingkungan itu sebatas daerah saya saja.

Tirakatan 17-belasan di Solo

Ada yang berbeda dengan perayaan tujuhbelasan tahun ini, berhubung saya melewatinya di Solo tempat perantauan sementara untuk menuntut Ilmu. Sebenarnya tahun ini cukup spesial terutama pada moment-moment yang semestinya berada bersama keluarga, namun ini malah dihabiskan bersama keluarga orang di tanah perantauan, karena tidak bisa pulang kampung... Tirakatan atau semacam perenungan warga. Digang saya (gang mendung IV) saat malam tujuhbelas agustus kemarin diadakan tirakatan, yang kalau di kampung saya (Baubau, SulTra) kegiatan semacam ini tidak pernah dilakukan oleh warganya. Kecuali adalah perayaan esok sorenya yakni berbagai macam lomba, itupun waktu saya masih kecil memang sering dilakukan oleh warga secara mandiri, jadi ceritanya para warga dihimpun pak lurah mengumpulkan uang untuk merayakan berbagai perlombaan tujuhbelasan.  Namun sekarang perayaan atau perlombaan seperti itu kalau bukan dilakukan oleh Pemerintah yaa....siapa lagi. Entahlah, kesadaran kebersamaan se...

Ujian Tesis

Tertanggal 23 Juli 2014, setelah melalui rangkaian pembimbingan, seminar proposal, penelitian, pembimbingan lagi, seminar hasil, lalu pembimbingan lagi dan akhirnya menjalani ujian tesis. Namun ujian ini tidak seperti ketika menuliskannya, beberapa kali merubah jadwal dan mencocokkan jadwal dengan dosen pembimbing dan penguji adalah hal yang harus dilewati untuk menuju saat-saat ujian. Tapi, secara umum proses perjalanan hingga titik ini memiliki hikmah tersendiri. banyak pelajaran luar biasa yang bisa diambil sambil terus mengasah titik kesabaran kita sebagai seseorang yang sedang menimba ilmu. Praktis, setelah menjalani Ujian Tesis tentu saya saat ini memiliki amanah yang bertambah. Penambahan Gelar Magister dibelakang nama bukanlah untuk gagah-gagahan bahwa sudah S2 tapi tanggungjawab yang lebih besar dari sebelumnya. Dengan ilmu ini mesti mengajarkan saya banyak hal untuk bisa membaginya dan menuntun diri sendiri untuk bisa lebih bermanfaat bagi orang lain.

Rafting Bersama Keluarga MAP

Postingan kali ini menceritakan dalam bentuk gambar-gambar, saat kami Keluarga Magister Administrasi Publik, Universitas Sebelas Maret menjalani liburan bersama yakni Rafting di sungai oyo, Magelang. Sebenarnya, peserta liburan ini bukan hanya mahasiswa MAP saja namun ada beberapa tambahan mahasiswa asing dari Thailand, Uzbekistan dan China, serta ada keluarga dosen kami yang ikut. Sebenarnya Liburan ini sudah lama direncanakan, hanya saja baru terlaksana pada tanggal 10 agustus kemarin. Liburan ini istilahnya satu paketan, yakni untuk liburan bersama MAP UNS angkatan 2012 (kegiatan ini dipelopori oleh angkatan ini), syukuran beberapa mahasiswa MAP yang selesai menjalani ujiannya, Halal bi Halal, Moment salam perpisahan untuk mahasiswa asing MAP UNS 2012 (Muhamma Lohmi dari Thailand dan Agapito Tilman dari Timor Leste), dan yang utamanya adalah sebagai ajang silaturahim.

Berlebaran dengan Muslim Thailand

Sumber: disini Lebaran kali ini cukup berbeda dengan biasanya, momen Idul Fitri sebenarnya menjadi agenda wajib bagi saya untuk pulang kampung ke Baubau berlebaran dengan keluarga. Namun, tahun ini kewajiban itu akhirnya menjadi sunah dengan berbagai pertimbangan. Pertama oleh karena jadwal ujian tesis yang begitu mepet dengan lebaran, kedua karena memang kapal surabaya-baubau seminggu sebelum lebaran sudah tidak ada, ketiga menghemat dalam upaya menyambut wisuda bulan 9 nanti. Akan tetapi, lebaran kali ini cukup berbeda karena pada akhirnya dijalani dengan saudara-saudara muslim thailand. Mereka adalah bagian dari komunitas muslim thailand selatan yang berkuliah di Solo dan membentuk organisasi tersendiri juga. kebetulan memang saya berteman dengan salah seorangnya, Muhamma Lohmi namanya. Dia sebenarnya adalah teman sekelas saya dalam kuliah di program Magister Administrasi Publik di UNS.

Selalu ada Kenangan di Jogja

Jalan Malioboro coyy... Pagi itu sekitar pukul 6.00 saya bergegas untuk mandi, hari ini ada janjian saya bersama beberapa teman untuk maen ke jogja. Kita rencananya akan menumpang kereta pagi jam 7.00, karenanya kita mesti sudah berada di stasiun sebelum waktu keberangkatan kereta. Bagi perjalanan menggunakan kereta api, sangat berbeda dengan apa yang sering saya alami dengan menggunakan kapal laut. Kapal laut bisa sangat fleksibel dalam pola waktunya. Memang, kami akhirnya tiba tepat waktu sampai ke stasiun namun apa mau dikata ketika mbak yang menjaga loket tiket bilang kalau tiket kereta solo-jogja jam 7 sudah habis. Jadwal selanjutnya yang terdekat adalah jam 8. Apa mau dikata? Ketergesaan tadi tidak menjadikan kita akan mendapatkan jadwal lebih cepat. Tergesa-gesa memang tidak baik.

Ekspresi Masalah

Seorang bijak berpesan cara terbaik untuk menjadi bodoh itu bukan berhenti belajar, namun berhenti memahami. Banyak hal yang kemudian kita pahami sebagai bentuk penerimaan kita terhadap realitas yang sebelumnya telah ada, lalu kemudian logika memproduksinya menjadi sesuatu yang akan kita tiru sebagai sebuah proses belajar. kita kemudian terlepas pada apa yang mesti dilakukan semesntinya yaitu memahami, kita terlalu cepat mengambil kesimpulan-kesimpulan dan sulit menangkap pemahaman terhadap kejadian. Tidak berlebihan kemudian jika lebih banyak prasangka, dugaan, bahwa optimisme hadir ditengah-tengah pilihan yang akan kita lakukan. Ketika apa yang dilakukan berada diluar dari harapan, kesenjangan antara rencana dan kejadiannya, atau ketidaksesuaian ide dan realitas. Biasanya ketika kita tidk mampu memahami makna dibalik itu, kecewa, putus asa, depresi menjadi keniscayaan. Pada gilirannya, kita lebih mudah mengelak dari masalah daripada menghadapinya. Padahal kita tahu sebuah pendew...

Ketika Matrealisme Mengikat Kita

Setiap hal disekitar kita mesti memiliki nilai memang benar, namun tidak mesti setiap hal dapat dinilai bukan?. Saya menuliskan ini bukan bermaksud ingin menjelaskan tentang matrealisme yang menjadi logika kapitalisme liberalisme itu. Namun saya hanya merasa ada sesuatu yang seringkali ditempatkan tidak pada tempatnya, atau mungkin malah ada sesuatu yang bermetamorfosis dan kita tidak menyadari sifat destruktifnya. Artinya matrealisme bermetamorfosis menjadi sesuatu yang wajar di sekitar kita, kalau Bordieu bilang sebagai habitus. Kenapa? Begini alasannya, di sekolah untuk menilai seorang siswa itu pintar dia harus memiliki nilai yang bagus disemua mata pelajaran, didalam kebijakan publik dikatan efektif jika telah memenuhi beberapa indikator penilaian yang dibuat oleh si pembuat kebijakan sendiri, untuk menjadi profesor harus memiliki tumpukan karya ilmiah, untuk dikatakan penyair seseorang harus banyak membuat syair, untuk dikatakan dermawan seseorang harus menyumbang banyak dan...

#Note Minggu

Ketika memutuskan untuk kuliah di UNS Surakarta, diawal saya meniatkan untuk bisa belajar bukan sekedar dalam kelas, memahami bukan saja dalam buku. sebagai bekal untuk dibawa pulang ke daerah nanti, pengalaman!. Makanya, ketika saya menemu hal-hal yang bisa memberi pembelajaran, saya tertarik, mudah tertarik. Saat ini saya seringkali bersama pedagang kaki lima, mendampingi mereka, mendengar kesan mereka, tertawa bersama mereka, sesekali mengajari mereka sekaligus mereka mengajari banyak hal kesaya, banyak minggu terlewati dengan pembelajaran. Setidaknya saya belajar dari mereka, tentang hidup dan kehidupan, ketika menengadah keatas kita sulit mencari teladan, namun cobalah sedikit melihat kebawah kita banyak menemukan hikmah. Bukankah harta karun itu berada dibawah?...belajarlah mulai dari bawah. UNS Market Expo

Logika Perut Kosong

gambar dari baidu.com Ada yang bilang kalau logika tanpa logistik, kegiatan tidak akan berjalan dengan baik. Begitu kira-kira yang seringkali dikatakan dalam beberapa kegiatan, seringkali logistik dalam hal ini makanan bisa menjadi sarana bagi bertumbuhnya ide-ide. Apalagi memang suasananya dalam perumusan rencana kerja sebuah organisasi, logistik akan sangat mendukung ide-ide yang akan bermunculan. Maksud dari ide-ide yang muncul disini bukan karena adanya hukum kausalitas yang berlaku antara logika dan logistik tadi, namun pada bagaimana kemudian forum terkelola dengan baik jika perut tidak kosong. Karena bisa jadi teriakan perut yang lapar akan mempengaruhi besarnya teriakan suara, sehingga konflik bisa terjadi kapan saja. Mungkin ini yang orang-orang bilang dengan diplomasi meja makan, yang kebanyakan berakhir dengan kesepakatan bersama.

Resep Memberi Ala Mbah Reso

Seringkali kita sulit memahami apa itu sebuah pemaknaan kehidupan, belajar untuk hidup bukan sekedar menarik dan menghembuskan napas. Kita selalu mencari pembelajaran dari berbagai sarana, buku, televisi, video motivasi, atau apapun itu. Namun, kita lupa bahwa semesta disekitar kita juga menyimpan berbagai makna hidup, hanya kita kurang menyadari kehadirannya. Didekat kita masih banyak menyimpan pelajaran-pelajaran berharga bagi kehidupan. Seketika saya langsung menyimak kata-kata itu, mencoba meresapi tiap katanya untuk menangkap makna yang disampaikan mbah reso. “yaa...gini mbak, mas.. kalau orang mau ngasih, pasti dikasih. Tapi kalau orang tidak mau ngasih, pasti juga tidak dikasih”

Celakanya Saya!

Barangkali setiap orang punya alasan tersendiri dalam memberi nasehat, atau bahkan menuliskan sebuah kata-kata mutiara. Memang membuat orang lain merasa nyaman dengan apa yang kita katakan, membuat orang lain termotivasi terhadap apa yang kita tuliskan itu, semacam akan timbul sebuah efek timbal balik. dalam artian bahwa orang merasa senang dan kita juga akan merasa berarti bagi orang lain dengan kata-kata itu. Namun, pernahkan kita menyadari bahwa apa yang kita katakan adalah juga apa yang kita lakukan? atau misalnya kita menasehati orang dengan begini begitu padalah kita sendiri belum pernah mengalami hal itu? atau ada alasan yang lain, mungkin? Intinya adalah kita menjadi subjek yang pasif dari apa yang kita nasehatkan kepada orang lain.

Hidup ini Mesti Terus Berjalan

Mendengar berita baik itu mungkin cukup mengagetkan, bagaimana tidak imaji ini selalu tidak lepas untuk bisa bersua secara faktual. Membincang segala hal yang masih diperselisihkan, membahas segala hal yang mungkin dilakukan, atau bahkan saling bertukar pengalaman dan pemahaman terhadap sesuatu yang hingga saat ini menjadi alasan tidak komunikasi. Komunikasi bagiku, bukan sekedar titip salam kemudian balas salam, tanya kabar kemudian balas kabar baik, tanya sesuatu terus dibalas sesuatu. Semuanya berjalan hanya sekedar menjawab, bahwa pemahaman kita yang penting menjawab adalah bagian dari sebuah komunikasi yang kita bangun, bukan.

Merawat Malas

Ketika awal melakukan penelitian, semangat ini seakan selalu menyala-nyala, semangat untuk menuliskan setiap perjalanan dalam wawancara, bertatap muka dengan masyarakat atau bergumul dengan kegiatan-kegiatan masyarakat yang menjadi objek penelitian. Karena saya yakin bahwa, setiap perjalanan pasti mengandung hikmah sekalipun cuman lahir dari hal-hal yang sepele. Namun, apa yang hendak dituliskan itu selalu saja tersendat-sendat. Seandainya keong sekalipun yang diajak berlomba untuk menyusun kata perkata hikmah yang didapati selama melakukan penelitian, niscaya si keong akan menang. Bagaimana tidak, seringkali apa yang saya ingin tulis sebagai bahan cerita, hanya tersusun rapi dalam kepala dan terceritakan disana.