Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Curhat

Calon Pengantinku

Seperti apa krtiteria pengantinmu? Seorang teman bertanya padaku. Seseorang yang mampu menjaga sisi kekanak-kanakkanku, jawabku singkat. Bagi siapapun pasti memiliki kriteria tertentu untuk memberi standar bagi seseorang yang akan menjadi teman hidupnya. Sahabat dalam mengiringi suka duka kehidupan, menjalani setiap hal bersama dan memapukan diri atas apa-apa yang akan dihadapi sebagai konsekuensi dari adanya dua individu yang bersatu dalam tali pernikahan. Wajar saja sih menurut saya, kriteria tentu berdasarkan pada keinginan-keinginan tertentu. Karena apa? Tentu setiap orang punya cita-cita kedepan seperti apa. Dengan jalan memiliki sejumlah kriteria tentu, sebagai bagian dari pertimbangan logisnya untuk memilih teman hidupnya nanti. Pun, dalam agama diajarkan untuk memilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu bukan.

Tesis ini untuk (si)apa?

Setiap mahasiswa tingkat akhir, pasti diperhadapkan oleh kewajiban untuk menyusun skripsi, tesis dan disertasi berdasarkan tingkatan kesarjanaan masing-masing. Pada kondisi ini, biasanya adalah kegiatan yang paling menguras pikiran setiap mahasiswa. Bahkan bisa sampai kita mendengar ada beberapa mahasiswa malah cenderung tertekan dengan kewajiban ini. Disamping itu, hal ini juga biasanya menjadi alasan kenapa mahasiswa lama baru selesai. Saat ini, saya tengah menjalani kuliah pascasarjana di Universitas Sebelas Maret dan beberapa bulan lalu Alhamdulillah saya telah menyelesaikan seluruh rangkaian perkuliahan, tinggal menunggu waktu wisuda saja. Namun kemudian, setelah beberapa diskusi sama teman maupun perenungan sendiri. Saya kemudian berpikir, setelah membuat tesis mempertanggungjawabkannya di dean dosen, mencetaknya sebagai syarat wajib, dan menyerahkannya ke perpustakaan universitas. Muncul satu pertanyaan besar, tesis ini sebenarnya untuk (si)apa? Pernyataan ini m...

Selalu Ada Titik Cahaya Dalam Kegelapan

Lebaran kali ini tidak mudik, karena itu untuk menghibur diri berjalan-jalan adalah sebuah pilihan rasional tentunya. Salah satunya adalah ke jogja selain untuk jalan-jalan juga menjengguk teman-teman dari daerah yang juga tidak mudik. Saat yang sama juga teman-teman ini juga sedang mengalami kondisi yang sama, yakni adalah mahasiswa semester akhir sehingga diperhadapkan pada pengerjaan skripsi dan tesis mereka. Karena itu, pertemuan saya dengan mereka lebih berpola curhatan tentang kondisi perjuangan mereka menyusun skripsi dan tesis mereka. Pada pokoknya memang dari cerita-cerita itu mereka ingin memiliki saluran untuk mengalirkan keluhan-keluhan dalam menjalani proses ini. Posisinya memang, saya sendiri yang sudah melewati tahap itu sehingga mudah memahami kemana arah dari cerita-cerita ini hehehe.....

Mengelola Pilihan

Setiap orang di anugerahi oleh yang Maha Kuasa dengan kemampuan untuk menentukan sesuatu berlaku pada dirinya, bahkan ini dijelaskan dalam ayat-Nya bahwa tidak berubah nasib suatu kaum jika bukan karena kaum itu sendiri yang merubahnya. Karena kemampuan ini juga, maka setiap orang akan memiliki preferensi yang berbeda-beda terhadap sesuatu. Hari ini, setelah dua hari berjalan-jalan di jogja dan mengunjungi teman-teman dari Baubau yang juga tidak mudik lebaran. Tiba-tiba saya merasa ingin menuliskan sesuatu dari perjalanan yang saya lakukan itu, utamanya ketika berada di kereta api yang membawa saya pulang balik solo-jogja-solo. Apa itu? Saya menyebutnya disini adalah mengelola pilihan.

Berkah Ramadhan

Barangkali judul tulisan ini agak seperti sebuh kultum di waktu sela antara sholat isya dan taraweh, yang menjadi jadwal tetap di tiap-tiap masjid saat ramadhan namun bukan itu maksud tulisan ini. Ohh...iya ngomong soal kultum, sebelum ramadhan lalu saya pernah ditawari membawakan kultum di masjid dekat kost-an, namu dengan sopan saya tolak “saya belum berani pak”. Sebenarnya ini bukan persoalan berani atau tidak, karena sebenarnya keinginan besar saya ingin membawakan kultum, hanya saya setelah dipikir tanggungjawabnya besar. Bagaimana tidak, seandainya saya membawakan kultum dan ternyata aktivitas keseharian saya malah jauh dari apa yang saya katakan itu?. Tapi terlepas dari itu, sebenarnya saya menyesal juga ketika pada saat mendengarkan kultum yang memang disetting bergantian oleh pengurus masjid dan remaja masjid.

Denyut Menulis

Orang bijak mengatakan sebuah keterampilan itu terbentuk dari tindakan yang selalu dilakukan secara rutin. Semisal seorang yang menyukai musik, pada awal dia memainkan alat musik bisa jadi nada yang dimainkannya akan lari kemana-mana, sehingg orang yang mendengarnya akan terganggu. Namun seiring waktu, dia terus berlatih dengan giat pada akhirnya dia mampu membuat suatu lantunan musik yang enak didengar dan dia mulai ahli disitu. Intinya adalah keinginan untuk terus berusaha, kritikan menjadi jalan untuk terus berbuat yang terbaik. Konteks ini bukan ingin membahas mengenai seseorang yang memainkan musik, namun diri saya sendiri dalam menuliskan catatan-catatan dalam pikiran yang senantiasa seret jika akan dituangkan dalam tulisan. Saya pernah menulis mengenai keinginan-keinginan untuk menulis, dengan sejumlah alasan ini dan itu, mungkin sudah beberapa kali seperti itu. Namun tetap saja, kemampuan untuk menuangkan ide dalam pikiran itu terheti begitu saja didepan layar netb...

Energi

Potongan Kecil nuklir mungkin memiliki energi yang cukup besar untuk menghancurkan sebuah kota...,  Tapi bagiku Suara punya efek lebih dahsyat dari itu... Yuppp...suara, suara dari seorang perempuan yang saya panggil mama... Cukup mendengar suara dari ujung telepon genggam yang mengatakan : "IYA, MAMA DOAKAN SEMOGA LANCAR URUSANMU, KAMU BAIK-BAIK SAJA DISITU, NAK" suara yang hanya memiliki sepersekian desibel itu, mampu membangkitkan ribuan, jutaan bahkan milyaran desibel semangat dalam otak dan hati untuk bekerja maksimal dan bangkit dari kegalauan. Tidak percaya? telepon mama kamu.....iyaaa kamuuu....sekarang!!?

Entah

Entahlah...melihat situasi kampanye capres sampai saat ini, semakin menguatkan asumsi saya kalau bangsa ini masih tetap seperti sekarang atau bahkan lebih buruk lagi nanti. Bagaimana tidak tiap hari hanya berita negatif yang saling menuding menjadi santapan kita di tv, radio atau media sosial. Entahlah... Tapi setidaknya ini tidak boleh membuat saya atau kamu iyaaa....kamu semakin terpuruk pada p esimisme, karena sebenarya kita punya andil juga. Bagaimana? Sudahlah, lepaskanlah polemik siapa capres baik dan buruk biarkan mereka. Jikalau akhirny bangsa ini tetap kayak begini2 saja oleh kepemimpinan mereka ..biarkan saja. Saya atau kalau kamu iyaaaa....kamu mau ikut, mari luruskan niat sederhana ini : jangan tenang saja melihat tetangga kita kelaparan, jangan abai melihat mereka yang sempit di saat kita lowong, jangan lalai melihat orang yang tidak tahu disaat kita tahu. Intinya jadilah manfaat bagi sekitar kita itu minimal. Mengurusi kampanye capres apalagi meramalkan masa depan dengan...

Barangkali

Barangkali saya ataupun kita semua harus mengurungkan cita kita untuk baiknya bangsa ini kedepan, atau kita dipimpin oleh orang-orang yang baik untuk kemajuan bersama, atau kita memperoleh pemimpin yang menjadi teladan kita semua. Kalauuuu...ternyata saat ini kita saja yang menjadi pendukung para capres saling sikut, mengungkap berita2 jelek yg bahkan kita tidak tahu kebenarannya, mengkultuskan pi lihan kita bahkan seringkali kita harus mengorbankan ikatan persahabatan atau silaturahim. Bukankah imam Ali mengingatkan, pemimpin suatu kaum itu ditentukan juga bagaimana tabiat kaum tersebut. Jangan salahkan sy klo bilang bangsa ini kedepan akan sama saja atau bahkan lebih buruk, jika kita lebih mengedepankan konfrontasi terhadap perbedaan pilihan capres ketimbang kesantunan dan persaudaraan.

Bertemu Ramadhan 1435 H

Alhamdulillah, akhirnya ini pertemuan kesekian kalinya dengan bulan ramadhan, dan sekaligus pertemuan yang tidak diawali dengan kumpul sahur sama keluarga besar. Sudah beberapa tahun ini, sejak kuliah tepatnya mulai S1 hingga saat ini saat S2 juga demikian. Momen awal ramadhan selalu dijalani dengan kehidupan anak kost, namun kerinduan untuk mengawali ramadhan dengan keluarga itu seringkali menghinggapi.

Selalu ada Kenangan di Jogja

Jalan Malioboro coyy... Pagi itu sekitar pukul 6.00 saya bergegas untuk mandi, hari ini ada janjian saya bersama beberapa teman untuk maen ke jogja. Kita rencananya akan menumpang kereta pagi jam 7.00, karenanya kita mesti sudah berada di stasiun sebelum waktu keberangkatan kereta. Bagi perjalanan menggunakan kereta api, sangat berbeda dengan apa yang sering saya alami dengan menggunakan kapal laut. Kapal laut bisa sangat fleksibel dalam pola waktunya. Memang, kami akhirnya tiba tepat waktu sampai ke stasiun namun apa mau dikata ketika mbak yang menjaga loket tiket bilang kalau tiket kereta solo-jogja jam 7 sudah habis. Jadwal selanjutnya yang terdekat adalah jam 8. Apa mau dikata? Ketergesaan tadi tidak menjadikan kita akan mendapatkan jadwal lebih cepat. Tergesa-gesa memang tidak baik.

Ekspresi Masalah

Seorang bijak berpesan cara terbaik untuk menjadi bodoh itu bukan berhenti belajar, namun berhenti memahami. Banyak hal yang kemudian kita pahami sebagai bentuk penerimaan kita terhadap realitas yang sebelumnya telah ada, lalu kemudian logika memproduksinya menjadi sesuatu yang akan kita tiru sebagai sebuah proses belajar. kita kemudian terlepas pada apa yang mesti dilakukan semesntinya yaitu memahami, kita terlalu cepat mengambil kesimpulan-kesimpulan dan sulit menangkap pemahaman terhadap kejadian. Tidak berlebihan kemudian jika lebih banyak prasangka, dugaan, bahwa optimisme hadir ditengah-tengah pilihan yang akan kita lakukan. Ketika apa yang dilakukan berada diluar dari harapan, kesenjangan antara rencana dan kejadiannya, atau ketidaksesuaian ide dan realitas. Biasanya ketika kita tidk mampu memahami makna dibalik itu, kecewa, putus asa, depresi menjadi keniscayaan. Pada gilirannya, kita lebih mudah mengelak dari masalah daripada menghadapinya. Padahal kita tahu sebuah pendew...

Ketika Matrealisme Mengikat Kita

Setiap hal disekitar kita mesti memiliki nilai memang benar, namun tidak mesti setiap hal dapat dinilai bukan?. Saya menuliskan ini bukan bermaksud ingin menjelaskan tentang matrealisme yang menjadi logika kapitalisme liberalisme itu. Namun saya hanya merasa ada sesuatu yang seringkali ditempatkan tidak pada tempatnya, atau mungkin malah ada sesuatu yang bermetamorfosis dan kita tidak menyadari sifat destruktifnya. Artinya matrealisme bermetamorfosis menjadi sesuatu yang wajar di sekitar kita, kalau Bordieu bilang sebagai habitus. Kenapa? Begini alasannya, di sekolah untuk menilai seorang siswa itu pintar dia harus memiliki nilai yang bagus disemua mata pelajaran, didalam kebijakan publik dikatan efektif jika telah memenuhi beberapa indikator penilaian yang dibuat oleh si pembuat kebijakan sendiri, untuk menjadi profesor harus memiliki tumpukan karya ilmiah, untuk dikatakan penyair seseorang harus banyak membuat syair, untuk dikatakan dermawan seseorang harus menyumbang banyak dan...

#salUME

Kalian pikir terlibat dan melibatkan diri di UME itu enak? selain seringkali mendapat cemilan "gratisan", lalu apa lagi? Saat ini, mungkin banyak capeknya yaa...kadang harus tidak enakan, jengkel, bahkan risih karena sering di "tuntut" ini itu sama pedagang. Padahal mereka tidak mengerti apa yang sudah dilakukan dibelakang mereka semua, atau mungkin mereka belum mengerti saja? Tapi ini intinya, kalian atau saya sebut kita saja ya. belajar bagaimana menilai, memahami, mengelola dinamika orang banyak disamping dinamika kita secara personal. Kita datang di kampus ini untuk belajar, namun sebatas dalam kelas dengan tembok kokohnya itu kah?

#Note Minggu

Ketika memutuskan untuk kuliah di UNS Surakarta, diawal saya meniatkan untuk bisa belajar bukan sekedar dalam kelas, memahami bukan saja dalam buku. sebagai bekal untuk dibawa pulang ke daerah nanti, pengalaman!. Makanya, ketika saya menemu hal-hal yang bisa memberi pembelajaran, saya tertarik, mudah tertarik. Saat ini saya seringkali bersama pedagang kaki lima, mendampingi mereka, mendengar kesan mereka, tertawa bersama mereka, sesekali mengajari mereka sekaligus mereka mengajari banyak hal kesaya, banyak minggu terlewati dengan pembelajaran. Setidaknya saya belajar dari mereka, tentang hidup dan kehidupan, ketika menengadah keatas kita sulit mencari teladan, namun cobalah sedikit melihat kebawah kita banyak menemukan hikmah. Bukankah harta karun itu berada dibawah?...belajarlah mulai dari bawah. UNS Market Expo

Logika Perut Kosong

gambar dari baidu.com Ada yang bilang kalau logika tanpa logistik, kegiatan tidak akan berjalan dengan baik. Begitu kira-kira yang seringkali dikatakan dalam beberapa kegiatan, seringkali logistik dalam hal ini makanan bisa menjadi sarana bagi bertumbuhnya ide-ide. Apalagi memang suasananya dalam perumusan rencana kerja sebuah organisasi, logistik akan sangat mendukung ide-ide yang akan bermunculan. Maksud dari ide-ide yang muncul disini bukan karena adanya hukum kausalitas yang berlaku antara logika dan logistik tadi, namun pada bagaimana kemudian forum terkelola dengan baik jika perut tidak kosong. Karena bisa jadi teriakan perut yang lapar akan mempengaruhi besarnya teriakan suara, sehingga konflik bisa terjadi kapan saja. Mungkin ini yang orang-orang bilang dengan diplomasi meja makan, yang kebanyakan berakhir dengan kesepakatan bersama.

Menjadi (anak) Kecil.

Menjadi dewasa seringkali menjadikan kita sangat egois, bahkan untuk diri sendiri. Misalnya menyangkut kebahagiaan sendiri, kita seakan-akan paham betul tentang hidup sehingga serentetan syarat-syarat yang kita buat sendiri untuk bisa dibilang bahwa itu kebahagiaan. kita terjebak pada pencapaian materi, akhirnya kita lupa bahwa hidup itu mesti dijalani di maknai, bukan dihitung-hitung apa yang kita dapat.  Dan, satu hal yang pasti bahwa kita lupa bahwa kita pernah menjadi (anak) kecil. Tidak pernah terikat apapun, tidak oleh materi bermain seperti seharusnya, merasakan seperti seharusnya, tidak terpaku pada hal-hal yang rumit. bagi anak kecil dunianya adalah bermain, teman-temannya adalah lingkungannya. Dewasa menjadikan kita egois dan lupa bahwa pernah menjadi kecil. Ironi!. Kita mejadi dewasa dalam bentuk fisik, namun menjadi kecil dalam jiwa.

Celakanya Saya!

Barangkali setiap orang punya alasan tersendiri dalam memberi nasehat, atau bahkan menuliskan sebuah kata-kata mutiara. Memang membuat orang lain merasa nyaman dengan apa yang kita katakan, membuat orang lain termotivasi terhadap apa yang kita tuliskan itu, semacam akan timbul sebuah efek timbal balik. dalam artian bahwa orang merasa senang dan kita juga akan merasa berarti bagi orang lain dengan kata-kata itu. Namun, pernahkan kita menyadari bahwa apa yang kita katakan adalah juga apa yang kita lakukan? atau misalnya kita menasehati orang dengan begini begitu padalah kita sendiri belum pernah mengalami hal itu? atau ada alasan yang lain, mungkin? Intinya adalah kita menjadi subjek yang pasif dari apa yang kita nasehatkan kepada orang lain.

Kertas-Kertas Ini, Berserakan Tak Berarti?

Setiap kita memiliki pandangan terhadap menjadi manfaat itu apa? bagaimana? dan kepada siapa?. apalagi kemudian ini disangkutpautkan dengan diri sebagai bagian dari rumah akademis. Tentunya, manfaat dalam pendefinisian ilmiah akan sangat terkait dengan teori dan segala yang mengikutinya sehingga dibilang itu ilmiah. Proses ini memang tidak mudah, tapi kita tentu punya pilihan terhadap setiap hal. Dalam pengertian tulisan ini adalah pada apa yang kita akan jalani ketika akan menyelesaikan kuliah. Maka, sebagai persyaratan wajib kita akan diminta membuat sebuah karya ilmiah. Tidak ada pilihan lain selain itu untuk dapat mengecap wisuda sekaligus memiliki gelaran akademik.