Langsung ke konten utama

Vonis Ahok dan Muhasabah Muslim


Menanggapi vonis terhadap Ahok, sejatinya menjadi muhasabah bagi kita muslim, bukan menjadi bahan untuk mencela. 

Toh, kemenangan sesungguhnya seorang muslim adalah saat kuatnya ia melawan dorongan hawa nafsunya. Seperti halnya, apa yang diputus oleh pengadilan hari ini, ahok dipenjara 2 tahun.
Sebagai muslim yang baik, tak perlu merayakan secara berlebih vonis ahok. Misalnya, menyebar meme bertuliskan ini itu yang cenderung nyiyir boleh jadi (maaf) mencela, bahkan sampai buat syukuran dengan niat riya'.

Mesti dilakukan adalah, muhasabah diri sebagai muslim yang baik. Perbaiki perilaku kita sebagai muslim, tunjukkan agungnya nilai islam dari cara kita memperlakukan orang lain, cemerlangkan cahaya ajaran al quran dan hadis pada tindak tutur kata sopan kita.

Agar, tak ada lagi yang berani menista agama islam apalagi terpeleset lidahnya untuk merendahkan islam. Islam itu rahmatan lil alamin, sebagai muslim kita menjadi agen pembawa rahmatan lil alamin itu.

Wallahualam

Komentar

Tulisan Populer

Kenangan Kambing

Entahlah kemarin pada saat selesai membaca sebuah novel berjudul Sepatu Dahlan yang ditulis oleh Krishna Pabichara, saya kemudian terkesan dengan semangat yang dimiliki oleh Dahlan dan Teman-temannya. Ada sebuah mozaik yang tertangkap oleh zaman dan akan terus terkenang oleh masa atas sebuah pencapaian mimpi anak manusia dan disertai dengan kerja keras. Banyak hal, banyak nilai yang dicatut dalam novel tersebut salah satu kata yang paling saya senangi dalam novel ini adalah “orang miskin cukup menjalani hidup dengan apa adanya”. Novel yang diangkat dari biografi hidup Dahlan Iskan (Menteri BUMN saat ini), walaupun begitu tetaplah cerita yang ditulisnya adalah sebuah fiksi yang ditambahkan bumbu tulisan disana-sini agar menarik tapi tetap memiliki keinginan kuat untuk menggambarkan kehidupan Dahlan Iskan, yang saat ini menjadi salah satu tokoh yang banyak menjadi inspirasi. Namun ada satu aktivitas Dahlan dalam cerita ini yang langsung memberi sebuah kenangan flashback bagi saya, ...

Ramadhan Yang Tak (Pernah) Dirindukan

"ahh...tinggal beberapa hari lagi puasa" "Sudah bikin kue?" "THR belum keluar ya?" "Sudah punya baju baru?"

Hayati; Beracun yang Berarti

Ini bukan tentang hayati, tapi orang lain. Hayati hanya buat keperluan judul aja. Namanya Ibu Nurdiana, pelaku usaha membuat kripik. Kalau kita ramah mendengar kripik berbahan dari pisang, ubi, mungkin beberapa sayuran, ini kripik dengan berbahan dasar Umbi Gadung. Umbi ini sering juga disebut Umbi hutan, beracun dan memiliki beberapa senyawa tertentu yang bisa membuat “teller” siapapun yang memakannya, tanpa diolah.