Langsung ke konten utama

Solo: Hik, Nasi Liwet, Mie Ayam dan Bang Jo

Manusia itu makhluk pelupa, tapi tak ada yang hilang begitu saja. Memori berubah menjadi kenangan, terpendam tertata rapi dalam arsip ingatan. Kenangan dapat "dipanggil" kembali, melalui letupan-letupan simbol, kode, atau momen yang dialami.

Dee dalam filosofi kopi mengatakan, keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indahnya kegagalan. Keheningan membantu kita menghadirkan kenangan-kenangan.

Saya tengah mengalami momen ini, kuliah dan tinggal beberapa waktu di solo, menumbuhkan bangunan-bangunan kenangan, belukar memori juga sejumput kerinduan. Dan, ia membisiki dan meminta di tuntaskan!.


***

Beberapa hari ini, teman mengirimi saya beberapa foto, identik dengan solo. Praktis, ingatan-ingatan tentang solo tergerek ke permukaan. Mengapung dan Saya kangen solo!. Dari tulisan kiriman salam hingga foto nasi liwet, berhasil membuka peti kenangan tentang solo dalam arsip ingatan saya.

Bukannya apa-apa, selain kenangan tentang kota asal presiden joko widodo, kota ini juga memberi berkas lini masa perjuangan saya menempuh pendidikan disana. 

Tapi bukan soal itu, saya ingin bercerita tentang yang saya tulis di judul. Mulai satu-satu yaa...

Hik, ini semacam tempat para anak kost mensuplai gizi mereka. Dari kost saya, hanya berjarak sepelemparan batu dengan lokasinya, saya sering "ngabsen" makan disitu. Hik, semacam lapak jualan yang didalamnya ada bermacam makanan 3 M (Murah, Meriah dan Mengeyangkan). Menu utamanya adalah susu sapi segar, tinggal sedikit modifikasi maka jadilah ia macam-macam menu. Saya paling suka, soda gembira!, campuran antara susu, sirop, soda dan batu es. Ngilerrr...!!!

Nasi liwet, makanan dengan rasa gurih dan kesederhanaanya itu begitu menggoda. Saya lalu mengingat, seorang ibu yang layaknya orang tua kami disana, penjual nasi liwet, ibu mambo namanya. Selain, nikmat rasa nasi liwetnya yang enak, nasehat-nasehat dan senyumnya kepada saya dan kawan ketika bertemu beliau. Pernah sekali, bahkan beberapa kali kerumahnya dan beliau begitu ramah. Ini saya nilai dari makanan yang disajikan ketika kami bertamu. Hehehe...

Mie Ayam. Nah ini saya pernah bertanya, di daerah saya ada namanya mie ayam solo. Tapi di solo, kok yak ada mie ayam solo, hanya mie ayam saja. Seperti Bu Mambo, mie ayam ini saya punya mama angkat juga, namanya Ibu Sugiyem. Hal paling saya sukai dan jadi moment dalam ingatan saya, senyum dan "cerewetnya" yang membuat saya selalu bahagia bertemu beliau ini. Dan, tentunya selalu ada  mie ayam gratis. Apa yang membuat saya berkata bahwa mie ayam tidak enak? Gratis kok!.

Bang Jo!. Untuk yang satu ini, bukan makanan. Saa punya pengalaman dengan istilah ini, awal waktu datang ke solo dan bertanya ke seseorang di jalan perihal alamat. Salah satu arah yang dia sebut adalah bang jo, pikir saya ini adalah nama orang. Begitulah, cerita selanjutnya saya tak bertemu dengan yang saya cari, seseorang dengan bang jo yang disebutkan tak jua saya ketemui. Belakangan saya baru tahu, kalau bang jo adalah Lampu Lalu Lintas. 

Yang menarik dari bang jo adalah angkringan. Kebetulan depan lorong kost saya ada angkringan dan itu tepat berseblahan dengan bang jo. Nah, hampir tiap malam saya nongkrong disitu, melihat lalu lalang orang-orang, juga yang seru adalah halte bus samping bang jo, selalu ditempati muda-mudi yang pacaran, maka sambil ngopi di angkringan sambil nonton film muda-mudi pacaran (uppsss!).

Selain diatas, masih banyak lagi kenangan tentang kota dengan motto sprit of java ini.


***

Kenangan dan luapan emosi yang terbangun tentang itu, harus dituntaskan. Layaknya rindu, ia harus terbayar lunas. 

Jadi Bro La Oti Agus, yang sudah mengirimi foto salam dari solo. Lalu, Ibu Kosilah, yang mengirimi foto nasi liwet. Atas luapan kenangan dan apungan memori tentang solo yang kalian lakukan, harus di bayar tuntas ya...hahaha...

Komentar

Tulisan Populer

Kenangan Kambing

Entahlah kemarin pada saat selesai membaca sebuah novel berjudul Sepatu Dahlan yang ditulis oleh Krishna Pabichara, saya kemudian terkesan dengan semangat yang dimiliki oleh Dahlan dan Teman-temannya. Ada sebuah mozaik yang tertangkap oleh zaman dan akan terus terkenang oleh masa atas sebuah pencapaian mimpi anak manusia dan disertai dengan kerja keras. Banyak hal, banyak nilai yang dicatut dalam novel tersebut salah satu kata yang paling saya senangi dalam novel ini adalah “orang miskin cukup menjalani hidup dengan apa adanya”. Novel yang diangkat dari biografi hidup Dahlan Iskan (Menteri BUMN saat ini), walaupun begitu tetaplah cerita yang ditulisnya adalah sebuah fiksi yang ditambahkan bumbu tulisan disana-sini agar menarik tapi tetap memiliki keinginan kuat untuk menggambarkan kehidupan Dahlan Iskan, yang saat ini menjadi salah satu tokoh yang banyak menjadi inspirasi. Namun ada satu aktivitas Dahlan dalam cerita ini yang langsung memberi sebuah kenangan flashback bagi saya, ...

Ketika Hujan...

sumber disini Apa yang terpikirkan olehmu ketika hujan, jemuran di kost-an yang belum diangkat? atau ada hal lain yang membuatmu mengingat seseoranga dikala hujan?. setiap orang tentun punya cerita dan kenangan dengan hujan, bahkan bukan saja kenangan namun muncul ketakutan bagi masyarakat yang selalu menjadi langganan banjir di daerahnya. Namun saya punya cerita, ketika menghadapi hujan di kamar kost yang tidak terlalu luas itu. setiap kali hujan, jika hujannya deras atau bahkan beranging, praktis air rembesan hujan akan selalu menetes dengan teratur didalam kamar. menggenangi lantai yang dilapisi oleh karpet plastik, dan otomatis semakin lama hujannya maka akan semakin membanyak airnya. Tapi, ini menarik. disitulah letak kemenarikannya menurut saya, sedikit repot memang namun saya menikmatinya, tiap tetesan demi tetesan itu menjadi irama dalam kamar kost saya (ini lebay yaa....heheh). menunggunya menetes dan melihat perambatan airnya disepanjang lapisa tripleks kamar itu...

Eforia Fildan dalam Catatan Spiritual Kita

Sebagaimana idola, pulang kampung seorang fildan membuat satu kota sibuk. Jalan-jalan sejak pagi dipenuhi masyarakat, rute perjalanan sang idola bocor di medsos bahkan beberapa hari sebelum ia pulang. Berbagai macam bentuk cara masyarakat merayakannya, buat bendera, spanduk, menyiapkan kamera, bekal menunggu, macam-macam cemilan, membuat tenda depan rumah sampai-sampai lupa menyiapkan makan siang keluarga. Fildan dan kehadirannya, menyimpan begitu banyak rentetan bungkus rindu yang perlu segera ditunaikan, yang lain bolehlah ditinggal sejenak. Begitu juga di kampus, untungnya saat itu tak ada kelas saya. Hanya saja, lengkingan suar mobil patroli polisi seringkali membuat hampir seisi kampus gagal fokus, dikiranya iring-iringan fildan lewat. Jalan depan kampus memang menjadi rute pulkam fildan, praktis sejam sebelum fildan menginjakkan kaki di bumi khalifatul khamis ini sudah begitu sibuk, ramai, sesak dan kelas ditinggal. Sayapun ada dan menjadi bagian dari hiruk pikuk menyambut fil...