Langsung ke konten utama

Postingan

Satu Tambah Satu, Sama Dengan NOL

gambar disini Ada sebuah pertanyaan, bagaimana caranya agar kita dihormati oleh orang lain?. Jawabannya sederhana, jangan pernah berpikir untuk menjadi terhormat di hadapan orang lain, cukup jadi lah dirimu sendiri dan hormatilah orang-orang disekitarmu. Penghormatan itu bukan kita yang menciptakannya, tapi Dia yang akan menciptakannya. Sederhana, namun jawaban itu memberikan kita pemahaman, bahwa ketika mengharapkan sesuatu terjadi pada kita. Maka buatlah sesuatu itu terjadi pada diri orang lain dahulu oleh perbuatan kita. Seperti efek cermin, kita akan melihat patulan gerakan yang sama seperti gerakan yang kita peragakan di depan cermin. Situasi ini seperti sebuah lelucon kehidupan yang baru saja saya alami dan teman. Ketika apa yang kita lakukan, karena memang hanya bermaksud menolong orang lain. Tidak pernah berniat akan diperlakukan apapun oleh orang tersebut, hanya saja kami ingin belajar lebih dari apa yang diajarkan kepada kami dalam ruang kelas, untuk kemudian memb...

Saling Menuntun : Mereka Melengkapi

Gambar disini Dibawah rerimbunan pohon sepanjang jalan dalam kampus, terlihat dua orang tua separoh baya duduk disalah sudut jalan. Dengan menenteng jualan mereka, sapu ijuk, keset kaki, kemoceng, dan beberapa lainnya. kelihatannya itu adalah barang buatan mereka sendiri. Beberapa hari sebelumnya juga begitu, mereka selalu berjalan ke dalam kampus untuk menjual barang dagangannya. Entahlah setiap kali atau bahkan setiap hari jualan yang dibawa mereka itu laku dan terjual berapa banyak. Atau sekedar bertanya apakah jualan mereka mampu memenuhi kebutuhan mereka hari itu. Namun apa yang berbeda dari kedua orang tua paroh baya ini. menuntun, mereka selalu saling menuntun  menyusuri  jalan setapak sepanjang kampus. Dan biasanya berhenti dan duduk di tempat yang kini saya melihat mereka. Karena tujuan saya hari itu adalah ke kantor pos, maka saya cuman menengok sejenak ke arah mereka.

Itu Namanya Jodoh, yaa...

gambar disini Ketika itu.... “Kok suami ibu itu, kayak begiru ya?”. Tanya seorang teman kepadaku. Mangnya kenapa? Tanyaku balik. “diluar ekspektasi, lho. Awalnya saya pikir, suaminya itu ciri-ciri fisiknya tidak seperti itu” (Teman, mencoba menjelaskan ciri-ciri fisik suami seorang ibu yang kita temuai saat itu. sepertinya keadaan yang sebelumnya terlihat dari keadaan si ibu, dan suaminya. Saat ini sangat jauh berbeda dengan imaji yang terbangun sebelumnya dengan kondisi saat ini yang ditemui.) Saya cuman jawab, namanya Jodoh kan?? “Tapi, kok begitu ya...”, dia sambil tersenyum masih penasaran. Itulah keadilan Allah Swt, Jawabku pendek...(tersenyum)

Ketika Hujan...

sumber disini Apa yang terpikirkan olehmu ketika hujan, jemuran di kost-an yang belum diangkat? atau ada hal lain yang membuatmu mengingat seseoranga dikala hujan?. setiap orang tentun punya cerita dan kenangan dengan hujan, bahkan bukan saja kenangan namun muncul ketakutan bagi masyarakat yang selalu menjadi langganan banjir di daerahnya. Namun saya punya cerita, ketika menghadapi hujan di kamar kost yang tidak terlalu luas itu. setiap kali hujan, jika hujannya deras atau bahkan beranging, praktis air rembesan hujan akan selalu menetes dengan teratur didalam kamar. menggenangi lantai yang dilapisi oleh karpet plastik, dan otomatis semakin lama hujannya maka akan semakin membanyak airnya. Tapi, ini menarik. disitulah letak kemenarikannya menurut saya, sedikit repot memang namun saya menikmatinya, tiap tetesan demi tetesan itu menjadi irama dalam kamar kost saya (ini lebay yaa....heheh). menunggunya menetes dan melihat perambatan airnya disepanjang lapisa tripleks kamar itu...

Jangan Mandi-Mandi di Sungai

Fotonya cuman ilusrasi, diambil  www.shnews.co   Seperti biasa, perkuliahan jam kedua pada hari sabtu akan diisi oleh dosen ini. Perawakannya kecil namun proporsional antara berat badan dan tinggi, rambutnya sebagian besar telah memutih. Gayanya khas, cara menyampaikan kuliah juga, apalagi kebiasaanya dengan menyelipkan candaan dalam perkataannya. Keahliannya mengenai kemiskinan dan hari itu mata kuliahnya adalah Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat. Dosen yang bergelar P.hD dari Malaysia itu bernama Yulius Slamet. Hari itu pembahasan kuliah mengenai Indikator kemiskinan, kemudian membahas mengenai deprivation sumber daya yang dialami oleh masyarakat miskin atau yang termiskinkan dalam struktur negara. Terus juga bagaimana negara mengkonstruk kemiskinan ini sebagai sebuah pencapaian pembangunan negara, dengan mengolah sedemikian rupa data kemiskinan di BPS sesuai dengan hitung-hitungan angka kecukupan kebutuhan dasar. Apa kebutuhan dasar masing-m...

Bujangan ohh Bujangan

Selepas sholat magrib di Masjid, seperti biasa waktu isya akan kami tunggu dengan berbincang apa saja. Memang hari itu tidak seperti biasanya, bulan malam ini hadir lebih awal. Bentuknya bulat utuh, dengan pancaran sinar yang berbayang karena awan disekitarnya sedang mendung. Semoga saja tetap begitu, agar bulan tetap menemani jiwa-jiwa petualang malam ini hingga pertemuan dengan fajar. Seorang teman mengatakan kepada saya, menjadi bujangan itu enak ya? Kemana-mana tidak perlu khawatir karena cuman sendiri, tidak banyak mikir ini itu tentang istri dan anak. Karena kebetulan teman ini sudah menikah dan kecenderungan petualangan masa mudanya masih kuat makanya dia berkata seperti itu.

Mengapa harus kartini?

Beberapa waktu lalu kita merayakan namanya hari kartini, perayaan secara nasional. Dimana hari ini dipersembahkan untuk merayakan sosok perempuan yang dijadikan sebagai tokoh emansipasi bagi perempuan Indonesia. yang mana beliau dikenal sebagai pemikir perempuan Indonesia berkat serangkain surat-suratnya dengan temannya di Belanda yang kemudian termanifestasi kedalam sebuah buku, dan saat ini judul buku tersebut selalu menjadi kata yang bersanding dengan nama besarnya Habis Gelap Terbitlah Terang. Disisi lain, sebagian orang meragukan ketokohan beliau apalagi sampai diberikan hari khusus sebagai perayaan untuk nama beliau. Hanya karena tulisan melalui surat-surat beliau kemudian dijadikan tokoh emansipasi perempuan Indonesia? lalu bagaimana dengan serangkaian nama-nama perempuan lainnya yang berani bertaruh nyawa demi membela bangsa dari penjajahan? Alangkah lucu, ketika hanya sebuah surat dipersandingkan dengan sebuah perjuangan berdarah-darah?  Ketika kita kem...

Tentang Mimpi...

Tahukah Kamu tentang Mimpi? Mimpi untuk memperoleh sesuatu Menggambar harapan-harapan Atas sebuah cita-cita? Saya pernah memiliki mimpi, Kemudian menuliskannya pada kertas, Namun ingatan melupa kondisi kertas selanjutnya, Hujan mendapatinya sehingga air menghapuskannya.

Nyanyian Bocah Tepi Pantai

Gambar disini Diantara bagian pulau yang menjorok kelaut, terselip sebuah kehidupan manusia sederhana. Bocah-bocah manusia yang menggambar masa depannya melalui langkah-langkah diatas pasir, mempelajari kehidupan dari nyanyian angin laut, dan menulisakan kisah melalui deburan ombak yang mengajari menggaris tepi daratan dengan buihnya. Hari-harinya dilakukan dilaut, berkomunikasi dengan laut sekitar. Setiap hal diberikan oleh laut, kecuali sesuatu yang selalu dinantikan mereka, sesuatu yang selalu dinanti anak manusia dalam hidup, dan menjadi kehidupan bagi generasinya mendatang, yakni sesuatu yang berwujud kesempatan. Kesempatan yang disebut kasih sayang Ina’ [1] mereka.

Menjadi Petarung

Pernahkah kita merasakan adanya pergolakan dalam diri, antara yang hitam dan putih, yang seharusnya dan yang seadanya, yang baik dan buruk, antara keinginan dan kebutuhan? Seperti yang dikatakan oleh para ahli, bahwa masalah berasal dari adanya jurang pemisah antara “seharusnya” dan “seadanya”. Dalam istilah psikologi, dikatakan adanya pertentangan jiwa lebih banyak disebabkan oleh alam bawa sadar kita, sebagai upaya mempertahankan diri (self defense). Kita lalu mengenal adanya id , eg o dan super ego sebagai penuntun dalam jiwa, sedangkan dalam psikologi islam dikenal dengan strata jiwa yakni nafs lawwamah dan nafs al mutmainnah .