Langsung ke konten utama

Postingan

Kata_Karya

Suara itu nampak bergetar, "terima kasih bapak ibu orang tua yang telah melahirkan mahasiswa hebat seperti mereka, terima kasih pula kepada para kaprodi dan dosen yang turut mendidik dengan baik". Itu adalah penggalan kata-kata Ibu Wa Ode Alzarliani, S.P.,M.M. Selaku Rektor UM. Buton ketika memberikan sambutannya pada prosesi pelepasan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Internasional Tahun 2019.

....

Sepi itu pesta jutaan kata, petasan dan kembang api dari cinta yang tak bersambut, kekasih. (Sujiwo Tejo) Dalam era revolusi industri 4.0, yang kini disusul oleh society 5.0, sisi kemanusiaan sejatinya berada pada sisi klimaks antara tergerus oleh teknologi yang eksponensial, atau tuntutan humanisme pada setiap hal.

Catatan Cucu Nonton Debat

Selain banyak hal yang coba diterka secara tajam oleh netizen. Tak begitu banyak gesture, gimmick hingga konten debat yang bisa saya analisa seperti lihainya pada netizen sekalian. Hanya saja, ada hal menarik yang saya sangat suka dengan situasi semalam. Bikin adem dan suasanya yang semula panas menjadi begitu menyejukkan, hingga akhirnya ditutup dengan lagu dari si Bintang RRI itu.

MAS LAUDE

Hari itu habis hujan, masih sedikit gerimis. Jalan masih begitu basah, kelokan jalan poros baubau-pasarwajo saat itu cukup licin. Saya berhati-hati memacu motor, untuk pulang dari mengajar di pasarwajo menuju Baubau. Pelan berjalan, saya melihat motor yang begitu familiar. Merah hitam, khas motor punya mas laude (panggilan saya pada Mustama Tamar Goqill). Tidak jauh, tepat di warung-warung tepi jalan, ia muncul sambil tersenyum.

Membaca 4.0: Ketika Aktivitas Membaca Tidak Selalu Melalui Buku.

Sumber Gambar Disini Namanya Zahwa, siswa di salah satu sekolah menengah pertama Kota Baubau. Film DIlan, membuat dia penasaran dengan novel yang ditulis oleh Pidi Baiq itu. Namun, setelah melihat novel tersebut ia kurang tertarik. Apa pasal? Novelnya terlalu banyak tulisannya, kata dia. Lalu ditambahkannya, saya suka kalau baca buku itu yang banyak gambarnya, sa rasa sakit kepalaku liat tulisan semua satu buku

MERAYU PARTISIPASI PEMILIH MARGINAL DALAM PILKADA SERENTAK 2018

Tanggal 28 mei 2018, Seorang berinisial FN diamankan oleh kepolisian Resor Kota Pontianak. Pasalnya, ia membuat heboh dengan berteriak dengan maksud bercanda bahwa ada bom di tasnya. Pesawat maskapai Lion Air yang sedianya berangkat dari Supadio Pontianak menuju ke Bandara Soekarno Jakarta dibatalkan. Sejumlah delapan orang penumpang lainnya terluka dan lainnya panik berhamburan keluar. Akibat candaan satu orang, membuat banyak hal tidak menyenangkan terjadi.

TANGKANAPO’: MENJADI GENERASI MILENIAL KOTA BAUBAU

Jika Dilan bilang rindu itu berat, justru menentukan pilihan politiklah yang berat. Gejala ini terdapat pada mereka generasi milenial, informasi begitu deras diperoleh namun tak begitu cukup memberi kesimpulan bagi generasi ini untuk menentukan pilihan politiknya kelak. Partisipasi dan rasionalitas terhadap lingkungan mereka cukup besar, akan tetapi menjadi apatis terhadap struktur bernegara juga begitu menghantui. **

Avenger dan Debat Pilwali Kota Baubau 2018

Marvel production selalu mengagumkan dengan film superheronya, terutama yang belum lama ini Avenger: invinity war. Komplotan superhero yang dibangun oleh marvel beragam, pun juga dengan keahlian serta kekuatannya. Mereka padu sebagai avenger, juga kuat bila sendirian. Yah...namanya animasi. Tapi, terkait dengan itu. Tiap-tiap film superhero pasti diperhadapkan sama masalah, dan sudah pasti negara sebesar apapun pasti akan kewalahan menghadapi masalah, disinilah peran dan kehadiran para avenger ini. Bahwa masalah akan selesai jika ada avenger, ini semacam narasi yang pasti dalam film-film superhero. Tahun 2018 ini, Kota Baubau bakal menghelat kenduri demokrasi serentak bernama pilkada. Bagian dari proses itu adalah debat publik, terhadap visi misi dan program para pasangan calon. Dari acara itu, hemat saya kegiatan itu semacam tengah menyaksikan film avenger. Lalu apa hubungannya dengan debat pemilihan walikota (pilwali) kota baubau semalam?. Ini, adalah beberapa catatan saya perihal...

Being a Butonese

Sebelah kanan (batik) adalah "Prof", sedang yang kiri (kemeja biru) adalah "water-prof".... Kuliah Umum, bertema Labu Rope Labu Wana: Sejarah Buton yang Terabaikan oleh Prof. Dr. SUSANTO ZUHDI, M.Hum. Catatan baik untuk dishare malam itu, yakni: 1. Dimanapun dan sesiapapun, seringkali menggunggulkan bangsanya. Beliau Prof Susanto mengambil jalan lain, kelahiran banyumas namun sungguh merasa memperoleh "keberuntungan yang tiada tara" ketika mengenal dan bercerita tentang buton (ini tertulis di slide beliau). Ini lecutan buat kami, pemuda. Bangganya disimpan dalam semangat, sedang semangatnya dipersembahkan buat kemajuan daerah yang berurat nadi keluhuran budaya buton. 2. Buton cinta damai, namun lebih cinta akan kebebasan. Maka itu, orang buton terkenal adaptif termasuk dengan bangsa apapun. Terbukti hingga kini jejak genetis itu tetap ada di beberapa penjuru daerag buton. Contoh, mata biru, kulit putih layaknya china bahkan hidung mancung seperti arab...

Writer's Gen

Ada beberapa kategori penulis, ini belum begitu ilmiah sih. Hanya kalkulasi sederhana dari saya. Apa saja kategori itu? 1. Penulis yang menulis, ia adalah golongan yang punya ide dan mampu menuliskannya sendiri. Tulisannya, tentu sudah banyak bahkan dalam bentuk buku. 2. Penulis Negeri, ia adalah golongan penulis yang biasanya menulis karena memang diperkerjakan oleh negara dan atau strukturnya. Jadi menulis adalah pekerjaanya, di luar itu ia hanya pemikir. 3. Penulis Swasta, selayaknya mekanisme pasar. Penulis kategori ini, melakukan aktivitas menulis disesuaikan dengan permintaan pasar (baca:pembaca). Jadi, tak ada karyanya yang begitu spesifik kita dapati sebagai kediriannya dalam menulis. 4. Penulis Imajinatif, nah golongan ini biasanya menjadi penulus dibelakang layar, mereka menulis tanpa harus mencantumkan namanya. Istilahnya, menulis hanya untuk orang lain dan sekaligus orang lain tersebutlah yang memiliki pengakuan atas tulisan itu. 5. Penulis Musiman, golongan penulis in...